Masih Worth It Beli EV Setelah 1 April 2026? Simulasi Biaya EV vs Bensin
- Admin
- Biaya 10 Tahun , EV , Panduan Beli
- 18 May, 2026
- 04 Mins read
Masih Worth It Beli EV Setelah 1 April 2026? Simulasi Biaya EV vs Bensin
Bayangin: kalian mau beli mobil listrik, sales dan iklan bilang pajaknya Rp 0, influencer juga ikut-ikutan. Terus pas 1 April 2026, ternyata kebijakan berubah—tidak otomatis lagi Rp 0 untuk semua daerah. Jadi pertanyaannya sederhana: masih worth it beli EV atau nggak?
Di artikel ini gua kupas singkat tapi padat: apa yang berubah di regulasi, status insentif di beberapa daerah saat ini, angka biaya energi yang dipakai, simulasi kasar per tahun, dan faktor-faktor non-fiskal yang sering kelewat. Siapkan kopi, kita seruput sambil analisa.
Kenapa topik ini penting buat kalian
Perubahan Permendagri Nomor 11/2026 bikin status pajak EV berbeda: bukan dihapus, tapi didesentralisasi. Artinya tiap daerah sekarang pegang kendali untuk menentukan insentif PKB dan BBNKB. Di sisi lain, Mendagri keluarkan Surat Edaran (22 April 2026) minta gubernur tetap beri insentif sampai ada keputusan daerah—dengan deadline pelaporan 31 Mei 2026. Jadi status akhir insentif bergantung keputusan daerah kalian.
Ini penting karena keputusan daerah menentukan apakah keuntungan membeli EV yang selama ini dijual ke publik (pajak 0, bebas ganjil-genap, dll.) tetap berlaku atau tidak.
Regulasi: apa yang berubah sejak 1 April 2026
Sebelum 1 April 2026: kendaraan berbasis baterai (KBLBB) otomatis dikecualikan dari PKB dan BBNKB di semua daerah — pajak Rp 0, tanpa perlu cek sana-sini.
Setelah 1 April 2026: Permendagri 11/2026 memasukkan KBLBB ke dalam objek PKB dan BBNKB, tetapi Pasal 19 memberi wewenang ke daerah untuk menentukan insentifnya sendiri. Jadi opsi: 0% (tetap bebas), partial, atau tarif penuh — tergantung Perda atau keputusan gubernur masing-masing daerah.
Surat Edaran Mendagri (22 April) mendorong gubernur untuk tetap memberikan pembebasan sampai kebijakan daerah final, dengan deadline lapor 31 Mei 2026.
Status beberapa daerah (per info terakhir saat pembuatan video)
- DKI Jakarta: Bapenda konfirmasi masih full insentif — PKB Rp 0, BBNKB Rp 0, dan bebas ganjil-genap (namun ini masih berupa statement Bapenda, belum Perda final).
- Jawa Barat: Gubernur menunda penerapan pajak EV “sampai ekonomi normal” — keputusan gubernur, belum Perda, bersifat sementara.
- Jawa Tengah: Informasi terakhir menunjukkan dibatalkan (artinya tetap 0% atau full insentif).
- Daerah lain: belum ada pernyataan resmi; deadline pelaporan 31 Mei jadi penentu informasi lengkap.
Data & asumsi perhitungan yang dipakai
Sumber data biaya per km yang gua pakai berasal dari hasil tes GridOto untuk BYD Atto 1 dan Honda Brio Satya E CVT (link ada di references). Dari sana, asumsi konservatif yang dipakai:
- Biaya energi EV (dalam kota Jakarta): sekitar Rp 220 per km.
- Biaya energi mobil ICE (dalam kota), pakai Pertamax Rp 12.300/liter saat video dibuat: sekitar Rp 750 per km.
- Contoh pemakaian: skenario moderat-aktif — 20.000 km per tahun (kasus nyata: antar-jemput anak, jalan keluarga, weekend).
- Skenario rendah: 10.000 km per tahun.
Gua jujur: angka ini adalah simulasi kasar untuk memberi gambaran. Regulasi bisa berubah dan angka per km bergantung model, cara berkendara, dan harga BBM/biaya listrik di daerah kalian.
Simulasi perbandingan biaya energi (kasar)
Pakai angka di atas, perhitungan sederhana:
-
Untuk 20.000 km/tahun:
- EV: 20.000 km × Rp 220/km = Rp 4.400.000/tahun.
- ICE (Pertamax): 20.000 km × Rp 750/km = Rp 15.000.000/tahun.
- Selisih hemat energi: ≈ Rp 10.600.000/tahun.
-
Untuk 10.000 km/tahun:
- EV: 10.000 × Rp 220 = Rp 2.200.000/tahun.
- ICE: 10.000 × Rp 750 = Rp 7.500.000/tahun.
- Selisih hemat energi: ≈ Rp 5.300.000/tahun.
Intinya: walau insentif pajak EV dikurangi atau dicabut di daerah kalian, penghematan biaya energi per km tetap besar dan memberi buffer terhadap kemungkinan pajak lebih tinggi.
Hal-hal yang sering terlupakan (dan harus kalian cek)
-
Utilisasi / jarak tempuh: Gua selalu tekankan — asumsi hemat ini bergantung seberapa sering kalian pakai mobil. Kalau dipakai minimal 20.000 km/tahun, penghematan energi jelas terasa. Di bawah itu, keuntungan operasional menyusut dan biaya per km naik karena fixed cost (servis, asuransi) dibagi ke km rendah.
-
Interval servis dan maintenance: Banyak buku servis menulis interval setiap 10.000 km atau 6 bulan—mana yang tercapai lebih dulu. Kalau cuma jalan 10.000 km/tahun, kalian tetap kena servis tiap 6 bulan; ini bikin biaya per km naik walau EV cenderung lebih murah per servis.
-
Depresiasi: Depresiasi EV di Indonesia nyata dan sering lebih dalam daripada beberapa model ICE. Ini faktor penting saat kalian hitung total cost of ownership (TCO). Tapi depresiasi bukan hanya masalah EV—semua mobil mass-market juga mengalami penurunan nilai.
-
Non-fiscal benefits: Di kota besar seperti DKI Jakarta, EV dapat keuntungan yang tidak terhitung di tabel pajak: bebas ganjil-genap, akses parkir khusus EV, kadang prioritas lain. Kalau rutinitas kalian melibatkan area ganjil-genap atau parkir di lokasi yang sedia fasilitas EV, manfaat ini terasa setiap hari.
Risiko utama: ketidakpastian kebijakan daerah
Masalah terbesar bukan angka pajak yang mungkin masuk akal (mis. 2% PKB masih fair), melainkan ketidakpastian: kalian dulu tahu pajak Rp 0 setiap tahun—sekarang kalian harus cek Perda daerah tiap tahun. Daerah bisa mengubah skema insentif kapan saja, dan itu memengaruhi ekspektasi biaya masa depan dan resale value.
Rangkuman cepat untuk kalian yang mau keputusan praktis
- Pajak EV tidak lagi otomatis Rp 0; keputusan sekarang tergantung daerah.
- Jika daerah kalian tidak beri insentif, pajak EV kemungkinan mirip-mirip dengan mobil ICE sekelas — selisih pajak tipis.
- Meski begitu, EV tetap unggul di biaya energi per km dan umumnya biaya maintenance lebih rendah.
- Kunci: jujur soal berapa banyak kalian pakai mobil (km/tahun) dan seberapa kuat ekspektasi resale value kalian.
- Kalau usage ≥20.000 km/tahun → EV masih masuk akal secara finansial. Usage rendah + khawatir resale → pertimbangkan ulang.
Kalau kalian pengin gua buat simulasi lebih rinci (mis. perbandingan model tertentu, skenario pajak 0% vs 2% vs penuh, atau pengaruh depresiasi), tulis data pemakaian dan daerah kalian di komentar. Data kalian bisa bikin simulasi yang lebih nyata.
Sampai ketemu di video/artikel berikutnya — kalau artikel ini membantu, share ke grup kantor atau keluarga yang lagi mikir beli mobil. Seruput dulu kopinya, lalu ambil keputusan dengan data.