V2H dan Baterai EV: Jadikan Mobil sebagai Baterai Rumah — Worth It?
- Admin
- Biaya 10 Tahun , EV , Panduan Beli
- 14 Jan, 2026
- 04 Mins read
V2H dan Baterai EV: Jadikan Mobil sebagai Baterai Rumah — Worth It?
Bisa jadi selama ini kita salah cara ngeliat mobil listrik. Kalau obrolan biasa soal EV sering mentok di range, lama ngecas, atau penghematan per kilometer, kita lupa satu hal: di bawah lantai mobil itu ada baterai besar—nilai puluhan sampai ratusan juta—yang sebagian besar waktunya cuma “tidur” di garasi.
Kenapa bahasan ini penting? Karena kalau kita anggap baterai EV sebagai aset energi rumah (bukan cuma alat dorong mobil), cara kita menghitung keuntungan dan fungsi mobil listrik bisa berubah. Siapin kopi, kita kupas pelan tapi tuntas.
Kenapa topik ini penting buat kamu
Baterai EV kapasitas besar bukan cuma soal jarak tempuh. Di dunia energi, kapasitas besar biasanya dipakai untuk backup, stabilisasi beban, atau fleksibilitas—fungsi yang sama relevannya buat rumah saat mati listrik atau untuk optimasi penggunaan PLTS atap.
Tapi di Indonesia konteksnya berbeda: skema ekspor‑impor dari PLTS atap sudah direvisi, jadi jangan berharap sekadar “jual listrik ke PLN” sebagai benefit utama. Selain itu, V2H belum umum “tinggal pasang” — butuh kombinasi mobil yang support dan perangkat yang tepat.
Skala baterai EV: seberapa besar sebenarnya?
Biar gampang, ambil angka bulat yang sering ditemui: 50 kWh. Banyak model kelas entry–compact punya kapasitas segitu—misal Wuling Cloud, Aion Y+ (tipe Exclusive), BYD Atto 3 (Advanced), MG ZS EV, dan lain‑lain.
Untuk gambarannya: kWh itu jumlah energi—ibarat “isi toren”. Daya listrik rumah yang sering disebut VA lebih mirip ukuran “keran”. Ambil skenario rumah 1 keluarga di Indonesia: dua AC (kamar orang tua + kamar anak) yang masing‑masing dipakai 8 jam semalam. Misal konsumsi rata‑rata 500 W per AC saat dipakai (karena inverter naik‑turun). Itu berarti 500 W × 2 × 8 jam ≈ 8 kWh per malam untuk AC.
Tambahkan beban lain (kulkas, lampu, Wi‑Fi, TV, dll) sekitar 5–10 kWh per hari. Jadi total kebutuhan sehari kira‑kira 15–20 kWh.
Kalau baterai mobil 50 kWh, perhitungan kasar: 50 ÷ 15 ≈ 3,3 hari; 50 ÷ 20 = 2,5 hari. Realitanya nggak seideal itu—kalian biasanya nggak mau ngabisin baterai sampai 0%, ada konversi loss, dan mobil harus bisa dipakai jalan minimal. Makanya alokasi sebagian (mis. sediakan 25 kWh untuk keadaan darurat) realistis: 25 kWh dengan konsumsi hemat ~1 kW => tahan ~25 jam.
Bandingkan dengan baterai rumah komersial: Tesla Powerwall usable ~13,5 kWh, Enphase IQ Battery ~10,08 kWh. Jadi baterai EV ~50 kWh itu kira‑kira 3–5 kali kapasitas baterai rumah komersial. Intinya: beli EV = diam‑diam juga beli baterai rumah versi besar.
V2L vs V2H: bedanya apa?
Jangan bingung: V2L (Vehicle‑to‑Load) itu gampangnya mobil jadi stopkontak atau powerbank—kamu tinggal colok alat, nyalain beban tertentu. Praktis untuk alat kecil atau situasi darurat.
V2H (Vehicle‑to‑Home) levelnya beda: listrik dari mobil masuk ke instalasi rumah—jadi nutupin beban rumah lewat jalur tertentu. Biasanya butuh EVSE (charger) yang mendukung bidirectional dan integrasi ke sistem rumah.
Di materi edukasi U.S. Department of Energy, konsep bidirectional EV ini jelas: EV bisa charge dan discharge ke beban eksternal bila dipasangkan EVSE yang capable. Namun di lapangan, terutama di Indonesia, V2H belum jadi barang massal “tinggal pasang”. Banyak faktor: dukungan mobil, perangkat, instalasi, hingga regulasi.
Use case V2H yang relevan untuk Indonesia
Praktisnya, skenario paling realistis buat rumah di sini bukan ekspor ke PLN, melainkan:
- Backup saat mati listrik: baterai EV bisa jaga rumah beberapa jam sampai hari, tergantung alokasi.
- Shifting beban: kalau punya PLTS atap, mobil bisa menyimpan surplus pada siang hari lalu dipakai malam.
- Flexibilitas darurat: power untuk kulkas, lampu, komunikasi, dan beberapa AC di mode hemat.
Bandingkan opsi lain seperti genset: genset memang keluarkan listrik, tapi berisik, emisi gas buang, getaran, butuh pemanasan dan perawatan seperti mesin ICE. Untuk skenario backup rumah sehari‑hari, V2H jauh lebih nyaman dan bersih—jika infrastrukturnya tersedia.
Degradasi baterai, second life, dan apa yang perlu kamu tahu
Pertanyaan wajib: “Kalau dipakai buat rumah, baterainya nggak makin cepat soak?” Jawaban jujur: secara teori iya, ada tambahan siklus charge–discharge yang bisa menambah degradasi. Tapi efeknya bergantung pada beberapa faktor kunci.
Konsep inti:
- Depth of Discharge (DoD). Semakin dalam kita menguras baterai tiap siklus, semakin besar stresnya. Review di jurnal Batteries (MDPI) nunjukin shallow discharge cenderung memperpanjang umur. Jadi bedain: “mati listrik 2 jam, pakai 10%” beda dengan “setiap hari siklus 60% buat rumah”.
- Fast charging & kondisi yang memicu lithium plating. Fast charging ekstrem dan temperatur tinggi bisa mempercepat degradasi. NREL pernah bahas lithium plating sebagai barrier fast charging ekstrem dan modelingnya menunjukkan kenaikan temperatur saat fast charging dapat mengurangi practical life beberapa persen pada jangka 10–15 tahun tergantung skenario.
- Kimia baterai berbeda, respons degradasi beda. Studi yang dirangkum Carnegie Mellon membandingkan LFP, NMC, NCA—dampak fast charging maupun siklus berbeda antar kimia.
Jadi musuh utama umur baterai adalah kombinasi: dalam + sering + panas + agresif (fast charge). Kalau penggunaan V2H kita rancang dengan shallow cycles, tanpa sering fast charge, dan manajemen termal bagus, penambahan degradasi bisa diminimalkan.
Second life: ketika baterai turun kapasitasnya untuk kebutuhan mobil, baterai itu masih valuable untuk tugas yang lebih santai—mis. storage rumah atau sumber daya portabel. Contoh nyata: Nissan reuse baterai Leaf lama jadi sumber daya portabel/emergency (AP News). Ini nambah nilai lifecycle dan mengubah kalkulasi total value baterai EV.
Hal yang sering dilupakan orang
- Regulasi lokal: jangan berharap ekspor listrik ke PLN sebagai manfaat utama—aturan PLTS atap di Indonesia sudah merevisi skema ekspor‑impor.
- Kompatibilitas: nggak semua EV support bidirectional; banyak yang baru sampai V2L.
- Garansi dan kebijakan pabrikan: cek syarat garansi baterai terkait penggunaan untuk V2H/V2L.
- Biaya perangkat tambahan: charger bidirectional dan instalasi integrasi rumah ada biaya ekstra yang harus dibandingkan dengan manfaatnya.
Ringkasan & pertanyaan buat kalian
Intinya: baterai EV ~50 kWh memang besar dan potensial dipakai sebagai baterai rumah untuk backup dan fleksibilitas energi. V2H itu nyata secara teknis, tapi di Indonesia manfaatnya harus dilihat bersama regulasi, dukungan perangkat, dan dampak pada umur baterai.
Sekarang gua pengen tau pilihan kalian: kalau ada dua EV—satu biasa, satu V2H‑ready—dan selisih harganya misalnya 20 juta, kalian pilih yang mana dan kenapa? Tulis di komentar.