3DHT di Chery Tiggo 9 & Jaecoo J8: Cara Kerja, 9 Mode, dan 11 Percepatan — Seruput Tech
- Admin
- Hybrid , Teknologi , Review
- 01 Mar, 2026
- 05 Mins read
3DHT di Chery Tiggo 9 & Jaecoo J8: Cara Kerja, 9 Mode, dan 11 Percepatan — Seruput Tech
Kalo kalian kira 3DHT cuma transmisi 3‑speed biasa yang dipasangi motor listrik, santai dulu — itu terlalu sederhana. Di video ini gue ngulik Kunpeng Super Hybrid C‑DM (inti mekanisnya disebut transmisi 3DHT) dari komponen sampai contoh pemakaian sehari‑hari, dengan gaya ngopi santai tapi analisa serius. Kalau mau nonton versi videonya, tonton di embed berikut.
Kenapa topik ini penting buat kalian
3DHT bukan sekadar gimmick marketing. Kombinasi mesin bensin + dua motor depan + tiga gigi mekanis (yang bisa di‑engage/disengage lewat beberapa kopling) bikin mobil punya banyak cara untuk bergerak: pure EV, series (range extender), parallel, sampai AWD on‑demand. Hasilnya: fleksibilitas performa dan efisiensi yang berbeda dari hybrid biasa — dan itu berpengaruh ke konsumsi bahan bakar, feel berkendara, dan kebutuhan servis.
Gambaran singkat: komponen utama 3DHT
Secara ringkas, komponen penting yang mesti kalian tahu:
- Dua motor listrik di sisi depan: EM1 dan EM2. EM1 bisa berfungsi sebagai starter untuk mesin, menghasilkan listrik (generator), plus bantu dorong roda. EM2 semata untuk bantu gerak roda dan regenerative braking.
- Transmisi 3‑gigi (Gigi 1, 2, 3) yang bisa dipilih lewat shifter mechanism dan dikontrol oleh kopling C2/C3 (plus C1 untuk mesin).
- Mesin bensin yang bisa dihubungkan lewat clutch C1, berfungsi untuk gerak langsung roda atau jadi generator.
- Pada varian AWD ada motor listrik ketiga di belakang, yang langsung ke roda belakang — memungkinkan RWD listrik, FWD, atau e‑AWD on‑demand.
- Sistem elektrikal: baterai, inverter, ECU yang atur semua mode.
Teknologi ini bukan hal baru: 3DHT yang dipakai Tiggo 9 dan Jaecoo J8 adalah generasi terbaru dari platform hybrid Chery yang sudah mencapai generasi ketiga — artinya banyak penyempurnaan pada komponen untuk performa, efisiensi, durabilitas, dan reduksi noise.
Ringkasan: 9 mode kerja dan konsep 11 percepatan
Intinya ada 9 mode kerja yang bisa dipakai bergantung kecepatan, beban, SoC baterai, dan input pengemudi:
- Single‑motor pure electric (hanya EM2 yang gerak)
- Dual‑motor pure electric (EM1 + EM2)
- Series range extender (mesin → EM1 sebagai genset → EM2 gerak roda)
- Engine direct drive (mesin langsung gerak roda)
- Parallel drive (mesin + motor gabungan)
- Parking charging (mesin hidup untuk ngecas saat parkir)
- Charging while driving (mesin gerakkan roda + ngecas baterai)
- Single‑motor regenerative braking
- Dual‑motor regenerative braking
11 “percepatan” yang gue sebut bukan 11 gigi mekanis terpisah kayak mobil manual biasa, tapi kombinasi posisi gigi antara dua kubu tenaga: tim kiri (mesin + EM1) dan tim kanan (EM2). Karena masing‑masing kubu bisa berada di gigi 1/2/3 atau netral, kombinasi digit‑digit inilah yang menghasilkan 11 gear position berbeda (mis. 0‑1, 0‑2, 0‑3, 1‑1, 2‑1, 2‑2, 2‑3, 3‑3, 1‑0, 2‑0, 3‑0 — urutan penjelasan dibuat supaya mudah dimengerti).
Penjelasan singkat mekanisme:
- Shifter pilih salah satu dari gigi 1/2/3; kopling‑kopling (C1/C2/C3) mengatur apakah mesin dan/atau motor terhubung ke gigi tersebut.
- Contoh: posisi 0‑1 artinya tim kiri netral (0) dan EM2 (tim kanan) pakai gigi 1 — cocok untuk Single‑motor EV. Posisi 2‑2 artinya kedua tim pakai gigi 2 — cocok untuk mode kolaborasi. Dengan cara ini ECU bisa pilih kombinasi paling efisien sesuai kebutuhan.
Detail singkat tiap mode (ringkas)
- Pure EV (single/dual): di kecepatan rendah sampai permintaan torsi kecil, motor saja yang bekerja. ECU otomatis pilih gigi motor (ada 3 percepatan untuk single motor, 5 untuk dual).
- Series / Range extender: mesin jalankan EM1 sebagai generator untuk menggerakkan EM2 — cocok saat SoC tipis dan kecepatan rendah‑menengah.
- Engine direct drive: mesin langsung ke roda lewat salah satu gigi; diklaim lebih efisien dibanding serial hybrid pada kecepatan menengah sampai tinggi.
- Parallel drive: mesin + motor gabungan untuk akselerasi kuat; inilah yang bikin SUV 2‑ton lebih di Tiggo 9 bisa klaim 0–100 km/jam ~5,5 detik.
- Charging modes & regen: ada parking charging (mesin ngecas saat diam), charging while driving (kelebihan tenaga mesin dipakai ngecas), plus dua tingkat regenerative braking (single/dual) bergantung intensitas rem.
Catatan operasi: dari info yang gue dapat, mesin bisa di‑engage untuk bantu gerak atau ngecas bahkan mulai di kecepatan rendah—ada catatan teknis yang menyebut mesin bisa engage dari ~25 km/jam dalam konteks akselerasi, dan di kondisi normal engine direct drive tercatat mulai engage dari sekitar 45 km/jam di gigi 2. Konteksnya berbeda (aksi cepat vs cruising normal), jadi ECU punya logika berbeda untuk kapan mesin masuk.
Contoh skenario dunia nyata
Biar nggak abstrak, ini beberapa contoh keseharian:
- Macet pagi, stop‑and‑go: Single‑motor pure EV. Mesin mati, halus, senyap, tarikan lembut.
- Lampu hijau, butuh sedikit tarikan: Dual‑motor pure EV. Mesin masih mati, tapi kedua motor gabung untuk dorongan lebih kuat.
- Berkeliling kota dengan SoC tipis: Serial range extender atau Charging while driving, tergantung pengaturan dan kebutuhan torsi.
- Nyalip atau tanjakan, injek gas habis: Parallel drive. Mesin + dua motor gabungan bantu akselerasi — ini alasan klaim 0–100 ~5,5 detik untuk Tiggo 9.
- Cruising di jalan tol: Engine direct drive untuk efisiensi; klaim efisiensi 7–10% lebih irit di kecepatan menengah dan 12–17% di kecepatan tinggi dibanding serial hybrid (klaim dari materi teknis yang gue telusuri).
- Turunan: regenerative braking, berubah dari single ke dual motor regen tergantung seberapa dalam rem diinjak.
Bagaimana AWD (e‑AWD) bekerja
Di varian AWD ada motor belakang yang langsung menggerakkan roda belakang. Karakter kerjanya:
- Kecepatan rendah: mobil bisa jalan RWD listrik (karena motor belakang), dan jika sensor deteksi selip belakang, sistem akan aktifkan penggerak depan.
- Cruising: sistem prioritaskan FWD (untuk efisiensi) karena 3DHT berada di depan.
- Beban besar/nyalip/tanjakan/permukaan licin: sistem otomatis switch ke AWD. Motor belakang juga berkontribusi ke regenerative braking untuk bantu isi baterai saat deselerasi.
Sensitivitas switch antara mode FWD/RWD/AWD dipengaruhi setting drive mode (Eco, Normal, Sport). Misalnya Normal akan lebih sensitif mendorong sistem buat beralih ke AWD dibanding Eco.
Kelebihan & kekurangan (ringkas)
Kelebihan:
- Fleksibilitas dan efisiensi di berbagai kondisi berkat kombinasi 3 gigi + multi‑motor + multiple modes.
- Performa baik untuk SUV berat (~2 ton): kombinasi motor + mesin memungkinkan akselerasi kuat.
- AWD yang fleksibel: bisa RWD listrik, FWD efisien, atau AWD saat perlu.
Kekurangan:
- Kompleksitas sistem lebih tinggi dibanding hybrid konvensional — desain lebih banyak komponen bergerak, lebih banyak kopling, shifter mechanism, dan kontrol elektronik.
- Consumable parts lebih banyak (kopling, shifter, dan part mekanis lainnya). Kabar baiknya: banyak part tersebut termasuk dalam garansi 6 tahun atau 150.000 km menurut materi yang gue terima, tapi tetap jadi poin yang harus dipertimbangkan untuk kepemilikan jangka panjang.
Catatan penulis: riset, disclaimer, dan interaksi
Beberapa catatan soal proses riset: gue nggak dibayar sama Chery, gak ada kontrak endorse. Yang gue dapat: segelas iced Americano di booth IIMS, brosur, kesempatan test drive lebih lama, plus akses nanya langsung ke teknisi Chery dan diskusi lanjutan via email/WhatsApp. Karena informasi resmi terbatas dan beberapa diagram beredar terlalu generik, gue harus gali langsung dari sumber teknis — makanya video ini agak panjang dan detil.
Kalau masih ada yang bikin kalian bingung atau mau bahas skenario tertentu, tulis aja di kolom komentar. Nanti pertanyaan yang sering muncul bakal gue rangkum dan mungkin gue jawab di Q&A lanjutan.
Jika lo suka konten kayak gini dan mau dukung channel, bisa lewat like, share, subscribe, atau klik link produk di deskripsi. Sambil ngopi, gue juga taruh link car charger yang gue pakai di deskripsi buat yang sering jalan jauh dan butuh charger mobil yang stabil.
Kesimpulan praktis
3DHT itu solusi hybrid yang komprominya: tambah kompleksitas untuk dapat fleksibilitas performa dan efisiensi. Buat yang pengen mobil keluarga besar (SUV 7‑seater) tapi tetep mau karakter berkendara responsif dan opsi berkendara listrik harian, sistem ini menarik. Buat yang prioritaskan kesederhanaan dan minim risiko servis jangka panjang, pertimbangkan kesiapan aftersales dan garansi sebelum beli.
Kalau kalian mau lebih jelas dan detail, yuk, gas tonton langsung videonya.